Jumat, 06 Juli 2012

[PERS-Indonesia] RPP dan Hitam Putih Sejarah Tembakau

 

SHNEWS.CO: RPP dan Hitam Putih Sejarah Tembakau http://bit.ly/LvXIop

RPP dan Hitam Putih Sejarah Tembakau

Endang Suryadinata*| Jumat, 06 Juli 2012 - 15:27:38 WIB



(dok/ist)

RPP diajukan pada mulanya tidak untuk merugikan petani.

 

Ribuan petani tembakau akhirnya membubarkan aksi mereka setelah mendapat kepastian pengesahan Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pengendalian Tembakau (RPP Tembakau) ditunda. Kepastian itu diperoleh setelah sejumlah perwakilan demonstran menemui pihak Kemenko Kesra.

Menurut para petani, RPP Tembakau adalah cara ampuh untuk mematikan petani keretek di Indonesia. Buktinya, impor tembakau terus melonjak. Pada 2003, impor tembakau sebanyak 29.579 ton.

Namun, pada 2008 naik lebih signifikan sekitar 250 persen menjadi 77.302 ton. Lalu, raksasa keretek asli yakni Sampoerna telah dicaplok Philip Morris sejak 2005, sedangkan Bentoel dikuasai British American Tobacco pada 2009.

Tentu saja kubu antirokok menganggap penundaan RPP ini mengecewakan. Kubu antirokok berargumen bahwa RPP itu tidak melarang petani menanam tembakau. RPP itu hanya bertujuan mengendalikan tembakau.

Dalam pada itu, pro-kontra tembakau akan makin ramai. Esais M Sobary getol mengungkapkan bahwa ada agenda asing di balik kampanye antitembakau. Kekuatan asing tidak rela jika industri keretek Indonesia mampu berjaya di Amerika.

Amerika Serikat memang terbukti takut dengan daya tarik keretek Indonesia, sehingga dibuatlah "Tobacco Bill" yang mendapat protes keras dari negeri kita (Mei 2009). April 2012 silam, WTO memenangkan gugatan Indonesia, sehingga "Tobacco Bill" tidak bisa diterapkan untuk keretek asal Indonesia.

Kalangan pro tembakau juga menilai segala kampanye bahaya rokok bagi kesehatan adalah berlebihan. Mereka menilai terlalu menyederhanakan masalah jika semua masalah kesehatan disebabkan asap rokok. Buktinya, banyak perokok yang umurnya bisa mencapai 80 atau 90 tahun.

Apalagi ada divine keretek atau rokok sehat yang dibuat Dr Gretha Zahar, dibantu Prof Sutiman Bambang Sumitro dari Unibraw Malang. Inti temuannya adalah asap rokok tidak lagi berbahaya bagi kesehatan manusia, lewat kajian ilmiah yang hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara akademis (F Swantoro, Suara Merdeka, 28/2/2012).

Ada pula yang menilai perang antara dua industri, yakni industri farmasi dan rokok, mencoba membelah publik kita dalam pro-kontra atau polemik tembakau.

Sejak Awal

Namun, polemik apakah tembakau membahayakan atau berguna bagi kesehatan, sebenarnya hanya repetisi. Sejak tembakau ditemukan Columbus pada abad ke-15, lalu disebarkan ke seluruh dunia, selalu ada pro-kontra terkait dampaknya. Istilah tembakau diambil dari nama pulau yang diberi nama Tubago oleh Columbus pada 1498.

Boleh percaya boleh tidak, semula tanaman tembakau yang ditanam orang-orang Indian ini justru diyakini sebagai daun pengobat yang mujarab (lihat sebuah uraian dari Thomas Hairot dalam bukunya, A Brief and True Report of the New Found land of Virginia, 1558).

Polemik apakah tembakau berbahaya atau tidak memang selalu mengiringi migrasi tanaman ini. Ketika tembakau dibawa ke Inggris dari Amerika pada abad ke-16, dalam pamflet antitembakunya yang berjudul "A Counterblaste to Tobacco" yang terbit pada 1604, Raja James I mengungkapkan kebiasan merokok sama dengan menyangkal Tuhan dan memuja setan, serta merendahkan diri sedemikian jauh dengan meniru kebiasaan orang-orang Indian.

Untuk menyanggah pendapat raja itu, penulis William Barclay dalam bukunya, Nepenthes, or the Vertues of Tobbacco (terbit 1614), malah berani meminta Uskup Murray agar melindungi "daun pengobat yang suci ini". Akhirnya, terbukti kalangan antitembaku tidak berdaya, karena orang-orang Inggris justru percaya mengisap tembakau bisa menyembuhkan beberapa penyakit.

Tembakau di Jawa

Ketika sampai di Nusantara, tepatnya Jawa, tanaman ini juga disambut dengan kontroversi. Dalam bukunya The History of Java jilid I, yang terbit 1817, Thomas Stamford Raffles sudah mencatat tembakau masuk ke Indonesia, tepatnya Jawa, pada 1600. Tembakau direspons dengan kecurigaan dan rasa ingin tahu. Raffles menyebut bahwa kebiasaan mengisap tembakau dipopulerkan Sultan Agung.

Boleh jadi karena nama Sultan Agung, tembakau kemudian kental dengan nuansa spiritual, sekaligus segera menyebar ke kalangan rakyat jelata. Maklum, Sultan Agung adalah kepala negara sekaligus pemimpin agama panutan (Islam). Bagi Sultan Agung, mengisap tembakau bukan sekadar untuk kesenangan. Ada alasan sakral atau mistis di baliknya.

Pengaruh Sultan Agung itu sampai sekarang masih bisa dilihat dalam masyarakat Jawa. Simak saja rokok justru menjadi benda sakral yang dipakai untuk "sesajen" bersama bunga mawar, cempaka, kenanga, dan melati. Sesaji ini dipersembahkan untuk beragam kepentingan dan ditaruh di tempat-tempat keramat.

Misalnya di tempat-tempat makam, di simpang-simpang empat jalanan, di dekat sumur, di jembatan, dan di tepian sungai. Bahkan, sesaji rokok kadang juga diberikan untuk Nyai Loro Kidul, permaisuri Sultan Agung dalam keyakinan banyak orang Jawa.

Hingga pertengahan abad ke-19, masyarakat kita belum mengenal perkataan rokok, meskipun rokok sudah menjadi barang dagangan di Jawa pada abad ke-17. Nenek moyang kita baru mengenal istilah rokok setelah berdirinya pabrik rokok di Kudus pada akhir abad ke-19.

Masyarakat Jawa lebih kenal dengan istilah "ses" atau "eses" sebagaimana tercantum dalam Serat Centhini. Ungkapan "ses" di sini bermakna sebagai sesuatu yang membuat lega hati atau melepas stres.

Berdirinya pabrik rokok di Kudus pada abad ke-19 tak lepas dari peran Haji Jamahri. Dia merupakan warga Kudus (1890) yang dicatat dalam sejarah rokok keretek Indonesia karena dianggap penemu rokok keretek.

Semula dia menderita sakit di dada, namun setelah meracik tembakau dan cengkih yang diramu menjadi rokok keretek, dan ketika rokok itu dinyalakan berbunyi "keretek-keretek", dan ketika diisap terasa enak, penyakit di dada Sang Haji hilang. Cerita pun menyebar, hingga banyak orang Jawa menyukai keretek. Sejarah industri rokok pun dimulai di Jawa, dari sebuah mitos bahwa rokok menyehatkan.

Itulah selintas sejarah panjang tembakau atau rokok di negeri ini. Dalam perjalanan sejarah sudah terbukti permasalahan tembakau atau rokok tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan hitam putih.

Fatwa haram rokok oleh MUI beberapa waktu lalu, misalnya, justru dilawan para kiai di Madura, Jember, Tulung Agung, Purwakarta, Kudus, dan lainnya. Tulisan ini tidak bertujuan mendukung salah satu kubu.

Tulisan ini hanya mencoba objektif menampilkan realitas tembakau dari yang anti hingga yang pro. Siapa tahu kita bisa belajar dari sejarah. Dalam hal ini, Warren Buffet menulis: "dari sejarah, kita bisa melihat ternyata banyak orang yang tak mau belajar dari sejarah".

*Penulis adalah alumnus Erasmus Universiteit Rotterdam; tinggal di Surabaya.

(Sinar Harapan)
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

__._,_.___
Recent Activity:
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Milis Pers Indonesia
Powered by : http://www.GagasMedia.com
GagasMedia.Com Komunitas Penulis Indonesia
Publish Tulisan Anda Disini !

Khusus Iklan Jual-Beli HP/PDA
Ratusan Game/Software HP Gratis
http://www.mallponsel.com

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar